Innalillahi wa innailaihi roji’un…
Wanita WNI sedang bersedih. Sedih banget. Padahal baru minggu lalu Hari Kartini, ketika perempuan dirayakan. Namun, akhir pekan kemarin kita dibuat sesak dengan kasus penganiayaan anak-anak di sebuah daycare di Jogja. Puluhan (bahkan ratusan) anak, dari usia bayi sampai TK, jadi korban pengasuh di daycare yang sudah bertahun-tahun beroperasi.
Bayi-bayi di sana ternyata sehari-hari diikat kakinya, tidak dipakaikan baju. Seharian! Gila banget kan! Baru dipakaikan baju ketika akan dijemput orang tuanya. Anak-anak balita pun sama, mereka tidak dibiarkan bermain, mereka diikat supaya tidak lari-larian. Makanan bekal mereka pun kerap dimakan pengasuhnya, atau dipaksa makan dengan cara yang tidak beradab. Anak-anak itu menangis dan dibiarkan saja berjam-jam.
Bagaimana perasaan orang tuanya? Ibunya? Duh, jangan ditanya! Saya yang hanya mendengar beritanya di medsos saja langsung sedih sekaligus marah. Kok bisa ya, perempuan-perempuan yang seharusnya menjadi sosok keibuan, malah bertindak seperti itu? Gila! Astaghfirullaah…
Dan kasus itu baru terungkap, baru mulai diusut oleh polisi setempat. Namun, tiba-tiba kesedihan lain datang. Kecelakaan kereta di stasiun Bekasi Timur. KRL yang sedang berhenti tertabrak oleh KAJJ Argo Bromo Anggrek yang melaju cepat. Gerbong paling belakang, yang merupakan gerbong khusus wanita, ringsek, hancur tertabrak. Bahkan lokomotif KAJJ sampai masuk ke dalamnya! Innalillaahi wa innailaihi rojiun.
Kejadian di jam 9 malam, masih jam sibuk, jam orang-orang pulang dari aktivitasnya. Ya Allah. Lagi-lagi wanita menjadi korban. Sejauh ini 15 korban meninggal dunia, semuanya wanita. Ada yang pegawai, ada yang guru, ada yang mahasiswa, busui, bahkan ibu yang baru tiga bulan melahirkan. Ya Allaah.
Dua bencana dalam waktu berdekatan. Ya Allah. Kasian sekali wanita-wanita Indonesia ini. Saya benar-benar berdoa, berharap, semoga di masa depan, semakin banyak pria-pria, suami-suami, yang benar-benar bisa menafkahi lahir batin istri dan keluarganya, sehingga istri tidak perlu lagi bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Pun, ketika istri bekerja, tidak perlu jauh-jauh, atau tidak perlu full day karena tidak dituntut memenuhi kebutuhan keluarga. Sungguh saya berharap demikian.
Dua kejadian ini membuat saya semakin yakin bahwa perempuan yang stay at home itu memang banyak manfaatnya. Selain melindungi diri perempuan itu sendiri, juga bisa melindungi anak-anaknya. Sungguh, saya berharap ke depannya para perempuan bisa terpenuhi kebutuhannya, termasuk kebutuhan aktualisasi diri dan bermanfaat bagi masyarakat, tanpa harus rutin keluar rumah dari pagi sampai malam seperti orang kerja kantoran (bahkan lebih).
Semoga para korban diampuni segala dosanya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran yang luas. Dan semoga bisa belajar dari kejadian-kejadian ini dan mengambil keputusan yang bijak. Amin.