28 May 2026

Pengalaman Pertama Scaling Gigi: Takut? Sakit? Ngilu?

Gimana sih rasanya scaling? Sakit? Ngilu? Atau justru ngga berasa?  

Alhamdulillah. Beberapa hari lalu akhirnya saya berhasil melawan rasa takut ke dokter gigi, dan memutuskan untuk scaling. Ngga ujug-ujug datang dan langsung tindakan gitu aja tentunya. Karena saya orangnya penakut, jadi datang ke dokter gigi, nih, ibarat ke medan perang, harus penuh persiapan.

Persiapan pertama tentunya adalah berdoa. Berdoa agar dipertemukan dengan dokter gigi yang sabar dan terampil dalam menghadapi pasien rewel macam saya ini. Dan berdoa agar dokter yang saya datangi bisa menjadi wasilah kebaikan untuk kesehatan saya tentunya. Ini bagian yang sangat penting, berdoa agar semuanya lancar.

Kedua, mulai cari-cari klinik gigi. Nah, zaman sekarang ini kan klinik gigi atau dental clinic sudah banyak banget, ya. Di Jabodetabek khususnya, ada ratusan bahkan mungkin ribuan. Tinggal pilih mau yang lokasinya di mana, yang range harganya berapa. Setelah cari-cari rekomendasi di medsos, baca-baca review di Google Map, akhirnya saya memilih klinik Satu Dental. Satu Dental ini cabangnya banyak, ya, tinggal pilih yang paling dekat atau paling mudah aksesnya aja.

Kenapa Satu Dental? Karena banyak review bagus, walaupun tentu tidak sempurna. Ada promo scaling gigi juga untuk pasien baru. Kemudian, yang paling menarik sebenarnya bagi saya yang cupu ini, di salah satu flyer yang saya temukan di Google, ada tulisan “painless” atau semacam itulah. I mean, dari sekian banyak klinik, saya cuma nemu klaim tersebut di Satu.

Baiklah, saya gas daftar dan datang sesuai perjanjian. Saya bertemu dengan seorang dokter gigi muda bernama Garina Shareen Nabila. Alhamdulillah, Dokter Garina ini masih bisa tersenyum (walaupun di balik masker tentu ya) ketika saya bilang takut dan belum pernah scaling dan sudah puluhan tahun tidak ke dokter gigi. Iya, saya terakhir ke dokter gigi itu pas masih SD, untuk tambal gigi. Wkwk.

Tanpa berlama-lama kali, dimulailah proses scaling itu. Bagaimana rasanya? Well, I’ll be honest, sakit, ngilu, tapi masih tertahankan lah. Awal-awal siy ga sakit, cuma yaa berasa kayak gigi kedorong-dorong gitu, tapi ngga sakit. Akan tetapi, di titik-titik tertentu ada yang sakit memang, sakit kayak ketusuk gitulah. Cetut cetut gitu. Dan kita bisa kasih isyarat minta pause untuk kumur-kumur dulu kok.  

Apalagi bagian yang gigi atas belakang, dan seri atas depan, duh, itu sakit banget sih menurutku. Tapi yaa ditahan aaja dengan tetap tenang, tarik napas, seperti menahan sakit kontraksi lahiran gitu. Hahaha. Level sakitnya mungkin beda-beda bagi tiap orang ya, tapi menurut saya, sakit perut itu kan lebih familiar dibanding sakit saat tindakan terkait gigi. Kalau sakit tindakan gigi ni ada efek ngagetinnya juga gitu lho.  

Lalu, setelah scaling gimana? Well, kalau di saya sendiri alhamdulillah setelah selesai ngga ada sakit yang gimana. Walaupun gusinya masih berdarah, tapi ngga banyak juga. Makan juga biasa aja. Agak sedikit sensitif di beberapa gigi, dan udah diinfo juga sama dokternya. Tapi ngga parah, dan besok atau lusanya udah biasa lagi. 

Terus, sensasinya abis scaling itu gigi kayak berasa keset gitu, ngga licin. Dan jadi berasa kayak ada ventilasinya. Haha. maksudnya, gimana ya, kayak ada celah antargigi. Mungkin selama ini celah itu ketutup karang gigi, dan sekarang udah bersih. Pas selesai itu diliatin juga emang, dan ya udah bersih. Karang-karang yang menumpuk setelah puluhan tahun itu akhirnya bersih. Ya Allah, alhamdulillah.

Intinya, saya sarankan bagi kalian yang belum pernah scaling karena takut, well, maju dan hadapilah. Hahaha. Scaling itu kalau deep cleaning kayak saya kurang lebih 30-40 menitan lah. Sakit, tapi abis itu lega. Dan kalau sikat gigi tadinya sering berdarah, sekarang udah ngga lagi. Alhamdulillah.

Oiya, sebagai catatan tambahan, suara alat scaling-nya itu nyaring banget. Karena kan posisinya di dalam rongga mulut yang dekat sekali dengan telinga ya, jadi kadang sebenarnya tidak sakit, tapi suara nyaringnya itu bikin telinga agak cekit-cekit gitu. Bagi yang sensitif dengan suara-suara seperti itu siy menurut saya ini perlu dipersiapkan juga, biar ngga kaget.

Share:

17 May 2026

"The Good Nurse" dan Pentingnya Nahi Munkar


Kemarin aku menonton sebuah film di Netflix, judulnya The Good Nurse. Film ini bercerita tentang terungkapnya seorang perawat yang ternyata membunuh pasiennya. Eh, tapi, kok judulnya The Good Nurse? Karena yang dimaksud The Good Nurse tentunya bukan si pelaku ini, melainkan rekan sejawatnya yaitu Amy.


Amy adalah seorang perawat, single mother, dengan dua orang putri yang masih usia sekolah dasar. Hidupnya bisa dibilang pas-pasan, dan dia menderita sakit cardiomyopathy, salah satu jenis penyakit jantung. Suatu hari, ia memiliki rekan kerja baru, seorang perawat laki-laki bernama Charles Cullen yang sudah berpengalaman menjadi perawat di sembilan rumah sakit dan nursing home.


Amy dan Charles sering kerja satu shift dan mereka pun jadi akrab. Charles juga satu-satunya orang tahu kondisi kesehatan Amy. Charles sering membantu Amy, saat penyakit Amy memburuk. Charles juga akrab dengan anak-anak Amy.


Charles sendiri juga sudah berpisah dengan istrinya dan memiliki dua orang putri. Namun, kedua putrinya tinggal dengan mantan istrinya. Kemiripan ini juga yang mungkin membuat Amy nyaman berteman dekat dengan Charles. 


Sayangnya, setelah Charles bergabung di rumah sakit Somerset–tempat mereka bekerja, ternyata jumlah pasien di ICU yang meninggal bertambah. Anehnya lagi, beberapa pasien yang meninggal itu sebelumnya sudah membaik kondisinya, atau stabil. Akan tetapi, kondisi mereka tiba-tiba drop dan meninggal. Hasil lab pun aneh karena adanya jumlah glukosa darah yang tidak normal.


Awalnya tentu tidak ada yang curiga bahwa perawat lah yang membunuh para pasien itu. Namun, karena adanya temuan aneh dalam hasil lab para korban, pihak RS pun sempat bertanya ke pihak berwenang yaitu dinas yang mengurus toksisitas. Kemudian salah satu keluarga korban juga ada yang menuntut, dan kasus ini pun diselidiki oleh kepolisian setempat. 


Polisi menelusuri latar belakang Charles dan menemukan hal yang janggal. Pasalnya, semua rumah sakit tempat Charles pernah bekerja, tidak terbuka tentang Charles. Akhirnya polisi pun bertanya pada Amy yang akrab dengan Charles. Tadinya Amy tentu denial, tapi ternyata Amy sendiri menemukan bukti bahwa Charles memang membunuh para pasien di ICU.


Film ini berdasarkan kisah nyata, ada versi dokumenter juga. Aku sendiri tertarik menonton film ini karena pernah menulis berita serupa sekitar tahun 2015. Saat itu aku masih menjadi content writer di sebuah situs media online. Berita ini bisa dibilang viral pada masanya. Nah, kukira film ini based on kasus yang kutulis waktu itu, tapi sepertinya berbeda. Kasus di film The Good Nurse ini sudah lebih dulu terjadi dan terungkap. 


Ada sebuah pernyataan yang begitu membekas bagiku di ujung film The Good Nurse ini. Yaitu ketika Charles ditanya apa alasannya melakukan semua itu, ia menjawab, “karena tidak ada yang menghentikanku”. Ya, tidak ada yang menghentikan, sampai Amy mengambil risiko besar di tengah krisis kesehatannya, dan Charles pun ditangkap. 


Bukankah ini miris? Andaikan rumah sakit tempat ia bekerja sebelumnya berani mengungkap kecurigaan mereka, maka korban yang lebih banyak bisa dicegah. Namun, rumah sakit lain memilih tutup mulut karena khawatir mereka akan dituntut atas ulah pegawainya, atau menurunkan kepercayaan publik pada mereka.


Ini juga mengingatkanku dengan salah satu pesan penting dalam Islam yaitu amar ma’ruf nahi munkar. Tolong menolong dalam kebaikan, dan melawan kemungkaran. Melawan kemungkaran di sini disesuaikan dengan kemampuan tiap orang.


Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangan. Jika tidak mampu, (maka ubahlah) dengan lisan. Jika tidak mampu, (maka ubahlah) dengan hati. Itulah iman yang paling lemah.” (HR. Muslim)


Kedengarannya mungkin mudah, tapi tidak semudah itu, tapi memang sangat penting untuk dilakukan. Jika semua orang melakukan nahi munkar ini, maka kemungkaran tidak merajalela. Wallahu a’lam. Semoga Allah mudahkan kita semua untuk menjalankan hadis di atas. Amin.


Share:

11 May 2026

Review Novel Teka-Teki Gambar Aneh


Judul: Teka-Teki Gambar Aneh

Penulis: Uketsu

Tahun terbit: 2026

Jumlah halaman: 312 


Bayangkan, kamu ingin pergi dari Jakarta ke Bandung naik bus. Namun, alih-alih menempuh jalur tercepat lewat tol, pak sopir justru mengambil jalur jauh memutar. Lewat Bogor dulu, Sukabumi dulu, Cianjur, Subang, Sumedang, baru ke Bandung. Bahkan di tengah jalan sampai membuatmu bertanya-tanya, ini sebenarnya tujuannya ke mana? Kok lewat sini? Kok ke situ? Hahaha.  


Kurang lebih begitulah kesan yang saya dapatkan setelah membaca buku ini. Tidak sepenuhnya jelek, hanya saja seperti terlalu memutar dan berbelit. Kalau novel pada umumnya memiliki alur setup-confrontation-resolution, maka novel ini setup-resolusi-confrontation-setup-setup-confrontation-setup-resolusi. Semacam itulah, seperti puzzle yang random tapi membentuk gambar utuh. Persis seperti judulnya, teka-teki.


Emosi pembaca benar-benar dimainkan, karena tadinya sudah merasa emosi yang cukup intense, eh, tiba-tiba turun lagi. Hhh.. Lelah. Saya sempat berhenti membaca di bab tengah, tapi karena kadung penasaran di mana benang merah semua ini, akhirnya lanjutkan walaupun slow motion. Untungnya, di seperempat bagian terakhir sudah kembali menarik dan seru untuk dibaca. Jadi, yaa lumayan lah.


Ok, jadi novel Asian Lit asal Jepang ini bercerita tentang teka-teki pembunuhan beberapa orang di beberapa periode berbeda yang ternyata saling berkaitan. Beberapa kasus meninggalkan petunjuk berupa gambar terakhir dari para korban yang justru terpecahkan oleh orang-orang yang tak terduga, bukan polisi atau detektif. Secara alurnya sendiri jelas maju mundur, setting waktunya juga cukup panjang, dari awal cerita bermula di tahun 60 atau 70-an, dan berakhir di 2015.


Menarik dan unik memang, dan dibandingkan buku pertama dari penulis yang sama, Teka-Teki Gambar Aneh ini yaa lebih “normal”. If you know what I mean. Hehe. Ada kesan “maksa” juga sih di novel ini. Semacam “emang bisa ya orang melakukan itu dengan alasan begitu?”. Wkwk. Bagusnya, semua pertanyaan dari cerita awal akhirnya terjawab di akhir, jadi tidak ada yang menggantung. Pembaca hanya perlu merangkai ulang kepingan puzzle yang tercecer. 


Well, kalau penulis ini merilis novel lagi, sepertinya aku tertarik membacanya juga. Karena penyampaiannya yang unik. Di buku pertama, novelnya seperti skrip sebuah film, dialog disajikan tanpa narasi yang utuh. Sedangkan di buku kedua ini, sudah normal, tapi urutan kejadiannya diacak. Kalau ada buku ketiga, mungkin akan menarik juga.



 


Share:

29 April 2026

Seminggu setelah Hari Kartini, Perempuan Indonesia Berduka

 

Innalillahi wa innailaihi roji’un…

Wanita WNI sedang bersedih. Sedih banget. Padahal baru minggu lalu Hari Kartini, ketika perempuan dirayakan. Namun, akhir pekan kemarin kita dibuat sesak dengan kasus penganiayaan anak-anak di sebuah daycare di Jogja. Puluhan (bahkan ratusan) anak, dari usia bayi sampai TK, jadi korban pengasuh di daycare yang sudah bertahun-tahun beroperasi.

Bayi-bayi di sana ternyata sehari-hari diikat kakinya, tidak dipakaikan baju. Seharian! Gila banget kan! Baru dipakaikan baju ketika akan dijemput orang tuanya. Anak-anak balita pun sama, mereka tidak dibiarkan bermain, mereka diikat supaya tidak lari-larian. Makanan bekal mereka pun kerap dimakan pengasuhnya, atau dipaksa makan dengan cara yang tidak beradab. Anak-anak itu menangis dan dibiarkan saja berjam-jam. 

Bagaimana perasaan orang tuanya? Ibunya? Duh, jangan ditanya! Saya yang hanya mendengar beritanya di medsos saja langsung sedih sekaligus marah. Kok bisa ya, perempuan-perempuan yang seharusnya menjadi sosok keibuan, malah bertindak seperti itu? Gila! Astaghfirullaah…

Dan kasus itu baru terungkap, baru mulai diusut oleh polisi setempat. Namun, tiba-tiba kesedihan lain datang. Kecelakaan kereta di stasiun Bekasi Timur. KRL yang sedang berhenti tertabrak oleh KAJJ Argo Bromo Anggrek yang melaju cepat. Gerbong paling belakang, yang merupakan gerbong khusus wanita, ringsek, hancur tertabrak. Bahkan lokomotif KAJJ sampai masuk ke dalamnya! Innalillaahi wa innailaihi rojiun. 

Kejadian di jam 9 malam, masih jam sibuk, jam orang-orang pulang dari aktivitasnya. Ya Allah. Lagi-lagi wanita menjadi korban. Sejauh ini 15 korban meninggal dunia, semuanya wanita. Ada yang pegawai, ada yang guru, ada yang mahasiswa, busui, bahkan ibu yang baru tiga bulan melahirkan. Ya Allaah. 

Dua bencana dalam waktu berdekatan. Ya Allah. Kasian sekali wanita-wanita Indonesia ini. Saya benar-benar berdoa, berharap, semoga di masa depan, semakin banyak pria-pria, suami-suami, yang benar-benar bisa menafkahi lahir batin istri dan keluarganya, sehingga istri tidak perlu lagi bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Pun, ketika istri bekerja, tidak perlu jauh-jauh, atau tidak perlu full day karena tidak dituntut memenuhi kebutuhan keluarga. Sungguh saya berharap demikian.

Dua kejadian ini membuat saya semakin yakin bahwa perempuan yang stay at home itu memang banyak manfaatnya. Selain melindungi diri perempuan itu sendiri, juga bisa melindungi anak-anaknya. Sungguh, saya berharap ke depannya para perempuan bisa terpenuhi kebutuhannya, termasuk kebutuhan aktualisasi diri dan bermanfaat bagi masyarakat, tanpa harus rutin keluar rumah dari pagi sampai malam seperti orang kerja kantoran (bahkan lebih). 

Semoga para korban diampuni segala dosanya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran yang luas. Dan semoga bisa belajar dari kejadian-kejadian ini dan mengambil keputusan yang bijak. Amin. 


Share:

07 April 2026

Cerita Penuh Makna di Festival Peduli Autisme 2026


Tahukah kamu, tanggal 2 April adalah Hari Peduli Autisme Sedunia? Saya pun baru tahu belum lama ini. Kenapa? Ya, karena anak kedua saya didiagnosis ASD (Autism Spectrum Disorder) akhir tahun lalu. Sejak itu saya mencari tahu lebih banyak tentang autisme, dan bertemulah saya dengan akun IG @PeduliASD.


Nah, ternyata Peduli ASD ini mengadakan sebuah acara bertajuk Belajar Autisme Seharian:Bangga Membersamai Autistik pada 4 April kemarin di Pesona Square Mall Depok. Acara terbuka untuk umum, dan saya hadir sebagai peserta. 


Konsep acaranya seperti talkshow gitu. Narasumber di sesi pertama adalah Dokter Arifianto alias Dokter Apin, beliau adalah dokter spesialis anak konsultan neurologi anak. Nah, anak kedua saya juga beberapa kali konsul dengan beliau nih di Klinik Apin. Selain Dokter Apin, sesi satu diisi juga oleh Ibu Dante Ragmalia, beliau adalah ketua Komisi Nasional Disabilitas.


Di sesi pertama yang dipandu oleh Dr. Isti Anindiya ini, pembahasannya seputar realita yang dihadapi oleh anak ABK khususnya ASD. Miris tapi tidak mengherankan sebenarnya, bahwa individu dengan ASD di Indonesia masih banyak yang kesulitan mengakses layanan kesehatan misal untuk terapi. Kemudian, masih banyak juga stigma yang melekat, seperti anggapan bahwa autisme itu karena vaksin, atau karena dosa-dosa orang tua, atau lainnya.


Nah, dokter Apin juga meng-highlight bahwa pada ASD, lebih cepat terdeteksi dan diterapi, maka hasilnya bisa lebih baik. Orang tua harus lebih rajin membaca buku KIA dan memantau tumbuh kembang anak supaya ketika ada yang tidak sesuai dengan milestone bisa langsung dicari solusi.


Ah, baru sesi pertama saja sudah banyak ilmu yang didapat dari acara ini. Salah satu yang menarik juga, ternyata Ibu Dante sendiri adalah seorang penyandang disleksia sejak kecil. Beliau bercerita bahwa semasa sekolah, ia dipandang sebagai anak yang bodoh. Bahkan saat SMA ia dikeluarkan dari sekolah. 


Namun, ibunda beliau tidak menyerah begitu saja. Sang ibu mendorong anaknya agar ikut kejar Paket C, dan bisa mendapat ijazah setara SMA. Dengan ijazah itulah Ibu Dante bisa mendaftar ke perguruan tinggi. Perjalanan menempuh jenjang pendidikan tinggi juga tidak mudah bagi beliau. 


Di jenjang S2, beliau juga sempat berhenti dan DO. Namun, beliau tidak menyerah, dan akhirnya menemukan kampus yang mau menerima dan menyesuaikan dengan kebutuhan beliau. Pendidikan Ibu Dante berlanjut sampai jenjang S3, dan pernah mengikuti perkuliahan di University of Oslo di Norwegia. 


Salah satu pesan yang disampaikan Ibu Dante dalam acara Sabtu kemarin adalah, betapa beliau sangat bersyukur memiliki ibu yang tidak menyerah dengan kondisinya yang berkebutuhan khusus, sehingga beliau bisa berada di posisi sekarang.


Ah, sebuah kisah yang tentunya menghangatkan hati para orang tua dari anak ABK. Sekaligus menjadi pengingat bahwa kita harus berusaha lebih keras dan lebih semangat demi masa depan anak-anak yang spesial ini. 🙂


Oke, cerita sesi dua dan tiga akan saya tuliskan di postingan selanjutnya, ya. Insyaallah. 🙂



Share:

25 March 2026

Lebaran Jalan-jalan ke Goalpara Tea Park

Di tulisan kali ini, aku akan coba menceritakan tentang acara Lebaran kemarin. Sebenarnya tidak ada yang spesial di keluarga kami terkait tradisi Lebaran. Pilihannya antara kunjung-kunjung tetangga, atau silaturahim saudara.

Nah, karena tahun ini kami Lebaran di Sukabumi, di rumah ibuku, kedua hal ini malah tidak dilakukan. Haha. Karena rumah ibuku tetangganya hanya sedikit dan pada mudik. Saudara pun tak ada lagi, hanya keluargaku, kakakku, dan adikku yang berkumpul, dan lengkaplah kami. Alhamdulillah.

Karena kami tidak ada acara apa-apa setelah solat Idulfitri, kakakku mulai ngide. “Daripada cuma gegoleran dan makan ketupat seharian, gimana kalau jalan-jalan ke Sukabumi kota aja?” Dan ide itu disambut oleh suamiku yang ayo-ayo aja. Jadilah kami mendadak jalan-jalan ke Goalpara Tea Park.

Kami jalan dari rumah sekitar pukul 10, dan karena jalanan relatif lancar, jam 12 teng kami sudah sampai Kota Sukabumi. Tidak langsung ke Goalpara, kami mampir dulu di Wizz Mie untuk makan siang. Untungnya tidak terlalu ramai karena tempatnya juga baru buka jam 12.

Setelah makan siang dan solat, kami lanjut sesuai rencana ke Goalpara. Walaupun waktu sudah hampir setengah tiga sore, dan wahana di Goalpara tutup jam lima, kami tetap melaju. Ya, karena tanggung juga, mau ke mana lagi?

Tibalah di Goalpara Tea Park, alhamdulillah. Tempat ini sebenarnya bukan tempat baru bagi kami karena Lebaran tahun lalu pun jalan-jalan ke sini juga. Bedanya, tahun lalu itu cuaca sedang hujan, bahkan kabut sampai turun. Pengunjungnya juga ramai. Kali ini berbeda. Cuaca cerah, dan karena di pegunungan jadi terasa adem sejuk. Pengunjungnya tidak ramai, kami bisa naik wahana tanpa antri.


Goalpara Tea Park ini dibangun di tengah kebun teh yang sangat luas, ya. Di dekat tempat parkir mobil ada area hewan-hewan, seperti mini zoo. HTM-nya hanya 20 ribu untuk dewasa dan 15 ribu untuk anak-anak. Hewannya pun lucu-lucu lho, ada burung unta, alpaca, lalu domba-domba kecil, kuda (atau keledai ya?). Sebagian hewan dilepas begitu saja, dan memang jinak, anak-anak bisa memberi makan hewan-hewan ini.


Dari area parkir ada shuttle car untuk ke main area. Selain ada foodcourt, vila, dan cafe, di sini ada wahana seperti flying fox, perahu bebek, mountain car, rainbow slide, ATV, dan roller coaster mini. Kalau beli tiket terusan, bisa naik semua wahana. Kalau bukan tiket terusan, tiap kali naik wahana harus beli tiket dulu. Tiket wahana termasuk murah, sekitar 20-40 ribu, kecuali ATV 75 ribu.


Setelah puas (dan gempor) bermain wahana ini itu, kami langsung ciao mencari tempat makan lagi. Pilihan jatuh ke Kopi Nako yang terletak di Jalan Selabintana (kalau tidak salah). Tempatnya outdoor, luas, pilihan menu cukup banyak. Kami mengisi perut sekalian juga solat. 

Sekitar pukul setengah delapan malam, kami pun jalan pulang ke rumah ibu lagi.

Alhamdulillah lagi-lagi jalanan lancar, perjalanan hanya memakan waktu satu jam lebih sedikit. Padahal tahun-tahun sebelumnya, kami selalu terjebak macet berjam-jam di jalan utama Sukabumi ini. Mungkin karena masih hari pertama Lebaran, belum banyak orang wisata ke Pelabuhan Ratu atau Selabintana, jadi jalanan masih aman.

Dan begitulah cerita Idulfitri tahun 2026 ini. Alhamdulillah, anak-anak senang, semua senang walaupun tentu saja capek ya gaes. Hahaha. 

Share:

23 March 2026

Rekomendasi Tempat Terapi Tumbuh Kembang Anak

Dalam postingan ini saya akan memberikan testimoni mungkin lebih tepatnya, tentang tempat terapi tumbuh kembang anak yang mungkin udah banyak dikenal juga. Haha. Nama tempatnya adalah Terapeutik, cabangnya ada di mana-mana, termasuk di Jawa. 

Pertama kali ke Terapeutik itu pertengahan tahun 2024, tepatnya ke Terapeutik cabang Bintaro, di sebrang puskesmas Rengas. Nah, yang saya konsulkan adalah anak kedua yang waktu itu usianya hampir 2,5 tahun, tapi belum ada kata-kata yang keluar jelas selain “mama” dan “itu dia”. Wkwk. 


Kenapa saya pilih Terapeutik? Karena setelah browsing beberapa tempat, pilihan ini yang paling murah dan lokasinya cukup dekat. Ulasan di Google pun umumnya bagus. Jadilah saya ke sana. Dan alhamdulillah, walaupun dengan harga yang relatif murah, pelayanannya oke. Tempatnya mungkin tidak luas ya, tapi nyaman dan bersih. 


Waktu itu anakku konsultasi dengan psikolog anak, namanya Miss Vanda. Untuk konsul pertama ini, sebutannya assessment, kita bisa pilih ingin assessment dengan psikolog anak atau terapis, dan biayanya juga berbeda. Kalau proses assessment-nya sendiri saya tidak tahu apakah beda atau sama. 


Nah, apa saja yang dilakukan saat assessment ini? Pertama-tama orang tua yang akan ditanya seputar tumbuh kembang anaknya, mulai dari masa kehamilan, proses persalinan, newborn, sampai saat ini. Apa saja milestone-nya, apa yang tertunda, keluhan saat ini, keadaan lingkungan sosial, dsb. Semua harus dijawab dengan jujur, ya. 


Sebagai catatan, saat mengisi formulir pendaftaran secara online pun memang akan ditanya juga tentang tumbuh kembang anak. 


Nah, setelah wawancara dengan ortu, Miss Vanda mulai mengobservasi anak langsung. Caranya dengan memanggil, membuat bunyi-bunyian, mengajak bermain, membaca buku, atau memberi instruksi sederhana. 


Kalau menurut keterangan yang tertulis di formulir, durasi konsul atau assessment ini sekitar 30-45 menit kalau tidak salah. Namun, pengalaman saya, konsulnya bisa sampai satu jam, jadi informasi yang didapat oleh psikolognya juga lebih lengkap.


Setelah selesai konsul, Miss Vanda menyarankan untuk terapi sensori integrasi dan terapi wicara. FYI, kalau baru satu kali konsul gini psikolognya ngga langsung menentukan diagnosis, ya. Karena untuk tegak diagnosis, apalagi pada anak, tentu tidak semudah itu. Perlu observasi lebih lanjut, salah satunya ya lewat proses terapi itu.


Setelah selesai konsul, langsung ke bagian admin dan bayar biaya konsul. Waktu itu kalau tidak salah ingat sekitar Rp200.000. Di Terapeutik ini juga suka ada promo untuk biaya assessment, lho. Coba pantengin aja di media sosial mereka.


Last but not least, kalau merasa ada yang mengganjal seputar tumbuh kembang anak, jangan ragu untuk konsul ke ahli, ke dokter anak atau psikolog, ya. Lebih awal tertangani lebih baik. Apalagi sekarang, di Jabodetabek khususnya, sudah banyak pilihan klinik atau tempat terapi tumbuh kembang anak. Tinggal cari yang paling sesuai. :)


Terima kasih sudah membaca sampai selesai. Semoga informasi ini bermanfaat, ya.


Share: