17 March 2026

Teruntuk Diriku yang IRT Tulen


Disclaimer dulu, ini adalah opini pribadi saja, bisa jadi berbeda, dan itu tidak apa. 

“Tidak ada wanita hebat yang IRT di mata dunia.”

Demikian sebuah kalimat yang saya temukan secara tak sengaja di kolom komentar media sosial–kalau tidak salah ingat. Sekilas membaca kalimat itu, tebersit dua perasaan yang bertentangan. Pertama, tidak setuju. Banyak IRT yang hebat di dunia ini menurut saya. Menjadi IRT itu sendiri adalah tanggung jawab besar, pekerjaan berat. 


Namun, di sisi lain, kalimat itu bisa jadi adalah fakta yang masih berlaku sampai saat ini. Kok bisa? Coba baca lagi baik-baik kalimat di atas, kemudian kita ingat-ingat, pada momen terkait perempuan, misal Hari Kartini, siapa yang biasa diundang untuk tampil di acara TV? Atau kalau zaman sekarang di acara podcast, siapa sosok perempuan yang diundang? Yap, most likely sosok perempuan pekerja, wanita karier, pemimpin perusahaan, dll. Contoh Najwa Shihab, mantan Menkeu Sri Mulyani, mantan Menlu Retno Marsudi, dan lain-lain. Wanita karier.


Pernahkah seorang IRT diundang tampil dalam rangka Hari Kartini? Atau hari-hari lain yang terkait pemberdayaan perempuan? Ah, iya, mungkin ada IRT yang diundang tampil, hanya jika dia punya anak banyak dan semuanya sukses. Sukses dalam kacamata masyarakat pada umumnya tentu saja–-semua jadi sarjana, dokter, pengusaha misalnya. 


Atau jika ia menempuh pendidikan setinggi-tingginya, S3 atau Ph.D. Barulah ia akan diundang tampil agar menjadi inspirasi bagi perempuan lain. Seolah, perempuan yang hebat, ya, yang seperti itu.


“Tidak ada wanita hebat yang IRT di mata dunia.”


Dengan miris harus saya katakan, ini benar. Kalaupun ada, sangat langka. Aduhai, makanya tidak heran jika ada IRT-IRT yang merasa insecure, merasa tak cukup baik, tak cukup berdaya. Kemudian ia pontang-panting mencari sorot kamera agar perannya diakui dan mendapat validasi. Ah, bisa jadi aku adalah salah satunya.


Karena itu, tulisan ini adalah nasihat untuk diriku sendiri yang sering khilaf, lupa. Wahai diriku yang IRT tulen ini, jangan sering-sering buka media sosial dan membandingkan diri dengan orang lain. Jangan mencari validasi dari ingar-bingar dunia. Jangan. Akan tetapi, carilah validasi itu dalam kajian-kajian ilmu di masjid. Maka akan kita temukan, Allah yang memvalidasi pekerjaan sebagai IRT ini.


“... Maka perempuan yang salih adalah mereka yang taat (kepada Allah), dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada. Karena Allah telah menjaga mereka…” (QS An Nisa: 34)


Allah memberikan apresiasi besar pada IRT, pada perempuan yang tinggal di rumah, yang menjaga diri dari sorot kamera. Dan itu cukup. Validasi langsung dari Sang Maha Pencipta itu seharusnya sudah cukup. Ikhlaskanlah niat, kuatkan tekad. Insyaallah, yang muncul adalah nikmat. 


Sungguh tulisan ini adalah pengingat untuk diri sendiri yang sering sekali khilaf dan kufur akan nikmat-Nya. Semoga kita selalu diberikan kemudahan dalam menjalani peran ini. Amin. 



Share:

17 February 2026

Ketika Anak Sakit


Sepanjang karirku (eaaa…) sebagai ibu rumah tangga, salah satu momen paling menguras pikiran adalah ketika anak sakit. Ketika anak tiba-tiba demam, lemas, rasanya pikiran langsung buyar. Tidak bisa memikirkan hal lain selain bagaimana agar anak lekas sehat.


Ketika anak sakit, mendadak keseharian yang biasanya terasa membosankan, langsung terasa bergejolak. Ketika itu juga aku seolah diingatkan lagi bahwa hari-hari yang terkesan mundane, antar jemput anak sekolah, ternyata sangat berharga dan mewah. Selama anak dan keluarga dalam keadaan sehat wal ‘afiat, maka keadaan baik–baik saja.


Nah, ketika anak sakit inilah salah satu momen “ujian” bagi kita orang tua. Apakah kita bisa tetap tenang dan tidak panik? Apakah kita bisa bertindak sesuai teori yang sudah dipelajari? Apakah kita bisa bersabar? 


Menurut teori, jika anak demam, maka ditunggu sampai 3x24 jam sebelum membawanya ke dokter. Selama tidak ada tanda kegawatan, ibu harusnya bisa cukup tenang di periode itu, ya. Jika anak tidak nyaman bisa diberikan paracetamol sesuai dosis.


Namun, tanpa ilmu dan support yang cukup, hal ini tidaklah mudah. Mendengar anak merintih karena sakit, seharian terbaring di tempat tidur, makan juga hanya secuil, tentu kita bisa terbawa panik dan cemas. Kepanikan justru membuat kita mengambil tindakan yang sebenarnya tidak perlu. Seperti memberikan obat tanpa resep dokter, memaksa anak makan banyak, dll.


Untuk mencegahnya, kita harus membekali diri dengan ilmu yang cukup. Salah satu sumber rujukanku adalah buku dokter Apin yang berjudul Orangtua Cermat, Anak Sehat. Selain itu juga tulisan-tulisan Dokter Apin di medsos, dan dokter lainnya. Dengan bekal ilmu yang tepat, kita bisa lebih tenang ketika anak sakit. Kita juga bisa cepat mengambil tindakan ketika diperlukan.


Saya sendiri tipe yang kalau tidak perlu-perlu amat ke RS/klinik, ya tidak usah. Misal, demam baru sehari atau dua hari, tanpa tanda kegawatan, berarti belum perlu dibawa ke IGD RS. Karena RS itu kan tempatnya orang-orang sakit, berbagai virus dan bakteri berada di sana. Belum lagi orang-orang yang sakit tapi tidak pakai masker. Duh. Jadi, kalau memang tidak diperlukan ke RS, sebisa mungkin observasi di rumah dulu. 


Alasan lain, jika hanya demam, tanpa gejala lain, dokter pun hanya akan memberi resep paracetamol. Atau mungkin tambahan obat radang. Nah, sedangkan menurut buku Dokter Apin, diagnosis radang tenggorokan tidak bisa tegak hanya dengan melihat tenggorokan yang merah. Ah, kalau bahas obat bisa jadi panjang lebar. Wkwk. 


Intinya, jadi ibu memang harus banyak belajar, ya. Tetap semangat buibuu!


Share:

12 January 2026

Pikiran Saya setelah Nonton Mens Rea

Ada dua tayangan di Netflix yang baru selesai saya tonton, dan keduanya bagus. Salah satunya adalah Mens Rea, pertunjukan stand up comedy yang dibawakan oleh Pandji Pragiwaksono. Wah, ini kalau lihat materi jokes-nya, dan cara penyampaiannya, saya rasa persiapannya lebih serius daripada persiapan MBG. Seriously. Kenapa?

Well, sebelum membahas sisi bagusnya acara ini, saya disclaimer dulu. Bagi yang tidak biasa nonton stand up comedy, dan tidak terbiasa mendengar kata-kata kasar, Mens Rea ini penuh dengan kata-kata kasar. Tidak hanya kata-kata, bahkan sikap yang sangat mungkin dinilai tidak sopan. So, jangan kaget. Saya sendiri kaget sih. Haha.

Namun, di balik semua itu, setidaknya ada dua hal yang membekas bagi saya dari acara komedi berdurasi dua jam lebih ini. Pertama, pemilu itu penting, dan kita harus pintar. “Banyak orang merasa dirinya pintar dan melek politik, padahal goblok!” Kurang lebih itu yang diucapkan Pandji setelah tektokan dengan salah satu penonton yang merasa melek politik, tapi tidak ingat siapa caleg yang dipilihnya.

Saya salah satu yang ikut tertampar dengan jokes bagian ini. Pasalnya, saya pun tidak ingat siapa saja nama-nama yang saya coblos--kecuali capres cawapres. Boro-boro meriset bibit bebet bobot mereka. Ah, bodohnya. Padahal orang-orang itu yang akan duduk di DPR, digaji dari pajak, dan punya kekuasaan. Jadi, kalau sekarang kita merasa para anggota dewan itu tidak kompeten, jahat, dll., yaa itu karena kita-kita juga yang asal-asal pilih. Oke, itu pertama.
 
Kedua, hal yang berkesan bagi saya adalah ketika Pandji bertanya pada penonton, “Apa masalah yang eksklusif bagi masyarakat kelas menengah? Kelas atas tidak punya masalah ini, kelas bawah juga tidak.” Saya langsung bisa menebak dengan tepat. Rumah. Tepatnya beli rumah. Karena ini emang masalah yang saya rasakan.

Saya setuju bahwa kelas bawah tidak punya masalah ini. Mengapa? Karena--berdasarkan pengalaman saya menjadi masyarakat kelas bawah--untuk makan sehari-hari pun kurang, apa lagi mikirin beli rumah. Atau, zaman sekarang justru bisa membeli rumah karena ada subsidi dari pemerintah. Terakhir saya dengar subsidi semacam ini khusus untuk yang gaji per bulannya tujuh juta atau kurang.

Bagaimana dengan yang gajinya delapan juta atau lebih? Ya ngga bisa. Padahal belum tentu juga dengan gaji delapan juta itu ngga kekurangan toh. 

Intinya, menurut keyakinan saya, materi-materi di Mens Rea ini memang dipersiapkan dengan matang, sehingga penonton bisa relate dan tertawa. Menertawakan nasib. Haha.
Ah, seandainya MBG dipersiapkan dengan segitu matangnya, sematang stand up comedy ini. 

Ok, sepertinya segitu saja tulisan tentang Mens Rea. Kalau menurutmu bagaimana? :)
Share:

06 January 2026

Review Novel Pengantin Remaja (Ken Terate)



Di minggu pertama tahun ini, akhirnya aku selesai membaca satu novel berjudul Pengantin Remaja. Ini adalah novel kedua karya Ken Terate yang kubaca, sebelumnya aku pernah baca Minoel. Nah, Pengantin Remaja ini ada miripnya dengan Minoel, tapi tetap menarik dan greget tentunya. Novel yang bikin gemes gini adalah pilihan yang cukup pas di awal tahun, biar tetap semangat membaca. Haha.

Ok, jadi Pengantin Remaja ini bukan cerita tentang sepasang remaja yang menikah karena hamil duluan. Bukan. Si tokoh utama, Pipit (16 tahun), memang kebelet nikah dengan pacarnya yang bernama Pongky (18 tahun). Walaupun ibunya Pipit menentang, tapi ayahnya dan si Pipit sendiri sangat ngotot. Terjadilah pernikahan itu.

Ah, sebagai emak-emak, tentu ini membuatku misuh-misuh dalam hati. “Kamu itu masih kecil, miskin, bodoh, kok ya nikah. Dikiranya nikah enak apa? Dengerin itu ibumu!” begitulah kurang lebih. Tapi ya, kalau si Pipit denger nasihat ibunya tentu jadi kurang menarik dong ceritanya. 

Nikah dan kawinlah kedua remaja ngeyel ini. Dan terjadilah apa yang sudah diduga. Keduanya menjalani kehidupan pernikahan yang sulit di lembah kemiskinan, kebodohan, dan kemalasan–tepatnya si Pongky yang malas. Ditambah lagi keluarga mertua yang aduhai kurang asem. Lengkap sudah nasib buruk Pipit.

Saat itulah si Pipit ini menyadari kebodohannya. Namun, menyesali kebodohan itu saja tidak cukup membukakan matanya. Ia harus menjalani kehidupan yang lebih ruwet setelah hamil dan punya bayi, baru kemudian ia berani mengambil langkah tepat untuk mengubah nasibnya.

Ah, sebuah cerita yang menguras emosi, karena aku tahu, ini bukan sekadar cerita. Ada banyak Pipit di luar sana, di kampung-kampung, yang terperosok dalam lingkaran setan berupa kemiskinan dan kebodohan. Memang sulit keluar dari jerat itu. Dan sayangnya tidak mudah juga menempuh jalan keluar seperti yang dilakukan Pipit.

Aku suka dengan novel ini karena mengambil sudut pandang tokoh utama yaitu Pipit yang masih muda belia dan polos. Karakter Pipit yang perlahan menyadari kesalahannya, bahkan berkontemplasi tentang dirinya di masa lalu itu sangat menyentuh. Untuk ending-nya, menurutku agak terlalu mulus, tapi memang memberi efek manis, sih. Kalau didetailkan mungkin akan terlalu panjang juga.
 
Novel yang sangat bagus dibaca oleh para remaja dengan karakteristik sosial yang mirip dengan Pipit. Kisah Pipit menjadi pengingat bagi siapa saja yang ingin mengambil jalan yang sama, agar tidak ikut menderita. Selain dalam bentuk buku cetak, novel terbitan tahun 2022 ini juga bisa dibaca di Gramedia Digital.

Share:

25 October 2025

Teman, Komunitas, dan Kesehatan Mental Ibu

Dulu kala, saya dan teman pernah bermain sebuah kuis random di internet. Salah satu pertanyaan di kuis itu adalah, “Siapa orang yang kamu tidak bisa hidup tanpanya?”. Di antara pilihan jawaban yang tersedia adalah teman dan orang tua. Saya dengan polosnya memilih orang tua, sedangkan teman saya menjawab teman.


Lalu dia bilang, “Aku mungkin bisa bertahan tanpa orang tua, atau jauh dari orang tua, tapi aku tidak bisa kalau hidup tanpa teman”. Saat itu saya hanya mengangguk saja. Sepuluh tahun berlalu, sekarang saya sangat setuju dengan jawaban teman saya waktu itu. 


Keberadaan orang tua jelas penting, dan salah satu support system terbesar. Akan tetapi, siapa yang bisa bertahan hidup sendirian tanpa teman? Kalaupun ada, saya yakin tidak banyak. Bahkan Allah memilihkan orang-orang terbaik untuk menjadi teman dan sahabat bagi Rasulullah saw. Keberadaan teman sangat penting bagi setiap orang, tak terkecuali seorang ibu.


Ibu mungkin sosok yang kuat, yang bisa melindungi anak dan keluarganya, tapi seorang ibu tetap perlu teman. Teman yang mendukung dan menguatkan, teman berbagi cerita dan jalan keluar, atau sekadar teman yang bisa saling memeluk dan menenangkan.


Sejumlah penelitian membuktikan hal ini. Bahkan, sebuah penelitian yang melibatkan 1082 ibu-anak di tahun 2019 menunjukkan bahwa hubungan sosial ibu dapat berefek positif pada kecerdasan anak. Jadi, lingkar pertemanan ibu bukan hanya penting bagi mental ibu itu sendiri, tetapi juga bagi anaknya.



Namun, menemukan teman yang sefrekuensi dan bisa mendukung kesehatan mental ibu terkadang tidaklah mudah. Terlebih lagi ketika baru pindah ke tempat yang asing, dan belum terbiasa dengan budaya sekitar. Nah, salah satu solusinya adalah dengan mencari teman melalui komunitas daring yang tepat. 


Saat ini ada banyak komunitas online yang dapat diikuti oleh ibu-ibu. Dua di antaranya adalah komunitas Ibu Profesional dan Ibu Punya Mimpi. Kedua komunitas ini mempertemukan ibu-ibu yang ingin menikmati perannya sebagai ibu, sekaligus membantu ibu meningkatkan kemampuan diri sesuai minat masing-masing.


Komunitas Ibu Profesional sendiri berdiri sejak Desember 2011 sebagai komunitas offline. Adalah Ibu Septi Peni Wulandani yang membangun komunitas ini di lingkungan rumahnya yaitu di Salatiga. Ibu Profesional kemudian berkembang pesat melalui jejaring online, dan hingga kini sudah memiliki ribuan anggota yang tersebar tak hanya di Indonesia, tapi juga di luar negeri. 


Senada dengan Ibu Profesional, Komunitas Ibu Punya Mimpi muncul di tahun 2020 untuk memberikan dukungan bagi para ibu yang kala itu tengah berjibaku dengan badai Covid-19. Komunitas Ibu Punya Mimpi menyediakan berbagai kelas online yang bisa diikuti para ibu sesuai dengan pace masing-masing.


Kedua komunitas ini bisa menjadi tempat yang nyaman bagi para ibu untuk belajar menjadi pribadi yang lebih baik, menjalani peran dengan bahagia, dan menemukan teman sefrekuensi. Keberadaan komunitas akan membuat ibu merasa menjadi bagian dari sesuatu dan tidak merasa sendirian. Dengan demikian, ibu pun bisa memiliki hubungan sosial yang lebih baik, dan mendukung kesehatan mental yang optimal. 


Jadi, sudahkah Ibu menemukan teman atau komunitas yang sefrekuensi itu? 


Share:

20 September 2025

Ternyata Banyak Ibu Merasa Kesepian!

“Being a stay at home mom is the loneliest kind of lonely, in which she was always and never by herself.”
(Barbara Kingslover dalam novel Flight Behaviour)

Salah satu “aha moment” bagi saya adalah ketika menemukan quote di atas. Karena saat itu saya benar-benar menyadari salah satu hal yang saya rasakan setelah menjadi ibu adalah kesepian. Bukan sekadar bosan ataupun lelah. Dan ternyata, banyak ibu-ibu yang merasakan hal sama. Apakah Ibu salah satunya?


Menurut American Psychological Association (APA), kesepian (loneliness) berarti perasaan tidak nyaman baik secara afektif maupun kognitif karena merasa sendirian atau terisolasi. Kesepian adalah hal yang subjektif, dan siapa saja bisa merasa kesepian.

Seorang ibu rumah tangga, misalnya, bisa merasa kesepian karena hanya bergelut dengan anak dan suami. Tumpukan pekerjaan rumah seolah mengikatnya sehingga tidak ada waktu untuk bergaul dengan teman. Pada satu titik, seorang ibu bisa merasa jenuh dan kesepian.

Dalam studi yang dilakukan oleh British Red Cross terungkap bahwa 43% ibu berusia di bawah 30 tahun sering atau bahkan selalu merasa kesepian. Penyebab terbesar adalah jarang bertemu dengan teman-teman setelah memiliki anak.

Wah, fakta ini sangat relate dengan saya yang langsung merantau ikut suami setelah menikah, dan langsung punya anak. Untungnya, kesepian itu tidak sampai terlalu parah. Pasalnya, kesepian yang berkepanjangan dapat berdampak buruk pada kesehatan.

Kesepian Jenis Apa yang Ibu Rasakan?
Dikutip dari situs Psychology Today, ada tiga jenis kesepian berdasarkan sebabnya. Dapat dilihat pada infografis di bawah ini.

Kesepian jenis apa yang pernah atau sedang Ibu rasakan? Eits, jangan bersedih, juga tak perlu malu mengakuinya. Ibu tidak sendiri, kok. Lagipula, rasa kesepian ini bisa diatasi dengan beberapa cara.

Cara Mengatasi Kesepian
Menurut Mental Health Foundation, ada beberapa cara yang bisa dilakukan dalam menghadapi kesepian ini.
  1. Melakukan kegiatan yang disukai, sebaiknya kegiatan yang bisa membuat kita merasa senang atau merasa puas. Contohnya menulis, membaca, menjahit, berkebun, apa saja. Sebagai muslim, membaca dan mentadabburi Al-Qur’an, salat dan berdzikir, tentu bisa menjadi kegiatan yang sangat baik. Sebaliknya, menonton berlebihan atau binge watching tidak termasuk dalam opsi ini karena hal tersebut justru dapat memperburuk perasaan kesepian setelahnya.
  2. Berolahraga atau aktivitas fisik. Mulai dari yang ringan seperti jalan kaki atau jogging, yang nyaman untuk Ibu lakukan.
  3. Cobalah berkomunikasi atau bergaul dengan orang-orang di sekitar. Mulai dari yang sederhana seperti menyapa tetangga saat berpapasan di jalan, atau berbasa-basi dengan penjual sayur langganan. Ini bisa memberi efek positif pada suasana hati kita, lho.
  4. Bertemu dengan teman senasib. Jika kamu seorang ibu rumah tangga, bertemu dan mengobrol dengan sesama ibu rumah tangga–terutama yang usianya tidak beda jauh–akan terasa menyegarkan. Refreshing! Kita tidak lagi merasa sendirian atau merasa paling sengsara.
  5. Bijak dalam menggunakan media sosial. Ini sangat penting, karena disadari atau tidak media sosial bisa memengaruhi mood dan perasaan kita. Follow-lah akun-akun yang tepat, batasi durasi membuka media sosial, dan pikirkan baik-baik sebelum mengunggah foto atau menuliskan komentar.
Semoga cara-cara tadi bisa membantu kita mengatasi kesepian, ya!

Referensi:
  • https://www.co-operative.coop/media/news-releases/shocking-extent-of-loneliness-faced-by-young-mothers-revealed
  • https://www.mentalhealth.org.uk/explore-mental-health/loneliness/help-and-advice
  • https://dictionary.apa.org/loneliness
  • https://www.psychologytoday.com/us/blog/lifetime-connections/201907/the-3-types-loneliness-and-how-combat-them

Share:

07 September 2025

Rutinitas Menulis untuk Menjadi Penulis Andal

(sumber gamber: Pixabay)


Dulu, saya dengar Tere Liye pernah membuka semacam kelas menulis–entah daring atau luring. Lalu, dalam kelasnya itu, ia mewajibkan para peserta untuk menulis setiap hari minimal seribu kata. Seribu kata. Setiap hari, selama sebulan atau lebih, saya lupa.


Mendengarnya saja membuat saya minder. Akan tetapi, saya yakin, hal itu bisa membuat pesertanya jadi luwes menulis, dan tentu menumbuhkan kebiasaan yang bagus. Saya penasaran dan coba mengikuti kelas menulis dengan konsep mirip—tapi bukan kelasnya Tere Liye, ya. 


Beberapa kali saya mengikuti kelas menulis yang mewajibkan menulis setiap hari, dan ada batas minimal jumlah kata. Hasilnya, saya mungkin bisa menulis setiap hari, dengan topik random, tapi rasanya, something is not right. Setelah kelas selesai, saya justru merasa lelah, seperti habis lari sprint, dan langsung ingin istirahat, hiatus.


Tulisan yang dihasilkan terasa hambar, seperti sekadar memenuhi kewajiban. Terasa kurang bermakna, saya juga kurang puas dengan hasil tersebut. Walaupun beberapa di antaranya memuaskan, dan bermakna bagi saya pribadi, tapi hanya sebagian kecil. Mungkin sekitar dua puluh persennya saja. 


Menemukan Rutinitas yang Tepat

Akhirnya, saya menyadari, mungkin cara yang tepat bagi saya bukanlah menulis setiap hari. Dalam konteks membuat tulisan yang bermakna dan bukan sekadar curhat, saya tidak harus menulis setiap hari. Seperti sebuah program diet yang bisa berbeda-beda pada tiap orang, rutinitas menulis pun sama. Bisa disesuaikan tergantung kondisi seseorang.


Lalu bagaimana? Karena saya juga masih bercita-cita menjadi penulis, maka saya merancang rutinitas sendiri. Saya menargetkan menulis minimal satu tulisan bermakna setiap minggunya. Inilah rutinitas yang saya coba bangun. Yaa memang terdengar enteng, ya, hanya satu tulisan tiap minggu, dengan jumlah kata sekitar 500. Namun, bagi saya yang super moody, jika ini bisa konsisten pun sudah menjadi pencapaian sendiri.


Rutinitas Pendukung

Di sisi lain, saya juga menyadari bahwa untuk membuat tulisan yang bermakna, dan menjaga mood menulis, saya harus rutin membaca setiap hari. Membaca buku, atau artikel, atau berita secara utuh. Bagi saya, aktivitas satu ini lebih penting. Karena dengan input-input ini biasanya menghasilkan opini pribadi yang ingin sekali saya tuang dalam tulisan.


Contoh, ketika membaca sebuah novel, kalau menurut saya bagus, maka saya ingin orang lain tahu. Saya jadi semangat menulis review novel tersebut. Atau sebaliknya, ketika membaca buku yang menurut saya kurang oke, saya juga jadi ingin ngedumel lewat tulisan. Hehe. Anyway, banyak input artinya banyak dorongan untuk menulis. Dan input yang paling mudah didapat saat ini adalah dengan membaca.


Kesimpulannya

Jadi, kalau ditanya tentang rutinitas menulis yang saya lakukan, maka jawabannya adalah seminggu sekali menghasilkan satu tulisan bermakna. Tulisan yang membahagiakan dan memuaskan bagi saya pribadi. Dan untuk menunjang hal itu, saya harus rutin membaca setiap hari. Bacaan yang juga bermakna.


Akan tetapi, kalau ditanya rutinitas menulis seperti apa yang bisa membuat seseorang menjadi penulis andal, mungkin jawaban yang lebih tepercaya adalah caranya Bang Tere Liye itu tadi. Wkwk. 


Share: